KRI Dewaruci, Sang Legenda Yang Telah Arungi Dunia

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci, sebuah kapal layar yang telah mengarungi lautan selama 68 tahun dan dimiliki oleh Indonesia. KRI Dewaruci merupakan kapal yang diproduksi oleh perusahaan kapal H.C. Stulchen & Sohn Hamburg dari Jerman Barat. Kapal ini diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953 dan berlayar menuju Indonesia pada bulan Juli 1953 yang dilayarkan oleh taruna dan kadet Angkatan Laut Republik Indonesia. KRI Dewaruci merupakan simbol kebanggaan bangsa Indonesia sebagai negara maritim dan dipimpin oleh seorang Komandan Kapal TNI Angkatan Laut (TNI AL). Kapal ini memiliki tugas utama sebagai kapal pelatihan bagi para taruna dan taruni Akademi Angkatan Laut (AAL) Republik Indonesia. Dengan kapal ini, sudah terdapat dua pelayaran muhibah keliling dunia, yaitu pada tahun 1964 dan 2012. Kapal ini juga telah melakukan perjalanan hingga 41 kali ke luar negeri. KRI Dewaruci pun kerap meraih berbagai prestasi bertaraf internasional, seperti Cutty Shark Trophy saat Tall Ships Race di Australia tahun 1998. 
“KRI Dewaruci tidak hanya menjadi sebuah kisah, melainkan sebuah legenda yang masih hidup,” jelas Komandan Letkol Laut (P) Hastaria Dwi Prakoso. Dengan begitu banyaknya negara yang telah dikunjungi, berbagai acara dan perlombaan yang diikuti, dan berbagai penghargaan yang didapatkan, KRI Dewaruci juga sekaligus mampu merepresentasikan kebudayaan Indonesia. 
Menurut Komandan Letkol Laut (P) Hastaria, Nama dari KRI Dewaruci diambil dari cerita pewayangan kuno dari Jawa. Cerita dimulai dari salah satu sosok dari Pandawa Lima, yaitu Bima yang pergi untuk mencari Air Kebenaran Tirta Amerta. Pencarian ini dilakukan oleh Bima yang merupakan sosok yang haus akan ilmu, berpendirian teguh akan apa yang sudah ditentukannya, dan patuh kepada perintah gurunya. Dalam proses pencariannya, Bima menghadapi berbagai tantangan yang salah satunya adalah tergulung ombak besar dan melawan seekor ular naga besar. Setelah berhasil menghadapi ular naga tersebut dan keluar dari ombak besar Bima akhirnya berhadapan dengan sosok kecil seukuran telapak tangan, bernama Dewa Ruci. Setelah itu Dewa Ruci meminta Bima untuk masuk ke dalam dirinya yang kecil melalui bagian kupingnya dan disanalah Bima menemukan kebenaran, dimana kebenaran yang dicarinya ada di dalam dirinya sendiri.
Inilah filosofi yang pada akhirnya diambil oleh KRI Dewaruci sebagai kapal pelatihan taruna dan taruni AAL Republik Indonesia, “Mereka yang masuk ke dalam KRI Dewaruci akan menemukan jati dirinya dan kebenaran yang sesungguhnya untuk mengarungi samudera. Mereka diharapkan menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan mau belajar seperti yang Bima lakukan saat masuk ke dalam Dewa Ruci,” ucap Komandan Letkol Laut (P) Hastaria menjelaskan asal usul pemberian nama kapal ini.
Jika dibandingkan dengan KRI yang lainnya, KRI Dewaruci merupakan kapal yang tergolong kecil. Kapal ini memiliki panjang 49,66 meter dan memiliki lebar 9,5 meter. Selain itu, jika dihitung dari permukaan ke kedalaman air, ukurannya adalah 4,6 meter. Dengan ukurang seperti ini, KRI Dewaruci merupakan kapal yang kecil bahkan jika dibandingkan dengan kapal lainnya seperti KRI Arung Samudera yang panjangnya masih lebih dari 50 meter. Selain nama kapal yang berasal dari kisah pewayangan kuno dari Jawa, tiang-tiang untuk layar kapal juga dinamakan dengan nama-nama dari kisah pewayangan tersebut. Ketiga tiang dinamakan Bima, Arjuna, dan Yudistira. Ketiganya memiliki pemaknaannya sendiri. 
Tiang paling depan kita namakan tiang Bima dengan tinggi 32,50 meter. Tiang ini yang paling banyak terkena deburan ombak dan untuk itu tiang ini diharapkan menjadi tiang yang kuat, sesuai dengan Bima yang memang terkuat dari antara Pandawa Lima. Kemudian tiang tengah, yaitu tiang Arjuna dengan tinggi 35,87 meter. Dia adalah tokoh yang paling sakti dan diharapkan tiang tengah ini juga sama saktinya untuk menjaga kapal agar tetap kokoh dan seimbang selama berlayar di lautan. Tiang yang terakhir dan paling dekat dengan komandan, yaitu tiang Yudistira dengan ketinggian 33,25 meter. Tokoh yang paling bijaksana, sehingga diharapkan kebijaksanaan Yudistira mampu diikuti oleh siapapun yang menjadi komandan kapal KRI Dewaruci. Selain itu, ketiga tiang tersebut juga melambangkan Indonesia yang berdaulat atas tiga wilayahnya, yaitu Barat, Tengah, dan Timur. Melalui tiang-tiang ini, terdapat layar yang membantu kapal untuk berlayar. Kapal ini memiliki 16 layar yang bisa dikembangkan dan luas untuk total layarnya, yaitu 1.091 meter persegi. 
Selama proses berlayar, kapal ini sudah menjalani berbagai macam pemeliharaan kapal. Dalam sebuah sistem pemeliharaan kapal terdapat apa yang disebut dengan sistem pemeliharaan terpadu. Sistem pemeliharaan terpadu terbagi menjadi, pemeliharaan organik yang melibatkan para anak buah kapal yang dilaksanakan setiap hari di atas kapal. Selain itu ada juga pemeliharaan dengan menggunakan bantuan dari pihak ketiga. Pemeliharaan jenis ini harus dikerjakan oleh pihak ketiga, karena ukuran dari kapal yang membutuhkan banyak tenaga ahli, seperti docking kapal atau penggantian rangka kapal. “Semua jenis pemeliharaan kapal ini diperlukan, supaya kapal tetap terjaga dan terawat,” ungkap Komandan Letkol Laut (P) Hastaria. 
 Melalui KRI Dewaruci, sudah banyak taruna dan taruni AAL yang berhasil menjadi pelaut handal. KRI Dewaruci menjadi saksi tumbuhnya tunas baru pelayar handal dari Indonesia. Hampir semua angkatan yang berada dalam AAL pernah menaiki KRI Dewaruci. Untuk saat ini, kira-kira sudah ada 65 angkatan Pelayaran yang ditempuh oleh taruna dan taruni AAL juga cukup beragam. Ada yang pelayaran sebentar sekitar 1 bulan atau yang lama di 8 bulan sampai 1 tahun.
Pelayaran yang memakan waktu cukup lama ini terkadang menimbulkan banyak rasa bosan di atas kapal. Komandan Letkol Laut (P) Hastaria menceritakan juga berbagai macam hal yang bisa dilakukan di atas kapal untuk mengusir rasa bosan. “Sebagai seorang manusia rasa bosan itu pasti ada, apalagi yang kita lihat hanya itu-itu saja. Untuk itu kita juga sering mengadakan kegiatan di kapal untuk mengusir rasa bosan. Hal yang paling umum biasanya seperti berolahraga, bernyanyi bersama, atau menonton film bersama. Kegiatan yang paling menarik pastinya adalah memancing ikan. Itu pasti setelah dipancing, langsung saat itu juga kita bakar ikannya dan makan bersama-sama,” kata Komandan Letkol Laut (P) Hastaria sambil tertawa menceritakan pengalaman di atas kapal.
Tidak lupa, beliau juga bersyukur telah diberi anugerah untuk berlayar bersama KRI Dewaruci, karena selalu mendapatkan pengalaman baru. “Berlayar dengan KRI Dewaruci merupakan sebuah anugerah besar bagi saya. Kapal ini kecil, tetapi sudah melalui perairan laut yang besar seperti Samudera Hindia, Pasifik, dan Atlantik. KRI Dewaruci membuat saya bisa melihat dunia,” ujarnya.
Untuk sekarang KRI Dewaruci hanya berlayar di kawasan perairan laut Indonesia. Tugas pelayaran panjang atau biasa disebut Kartika Jala Krida sudah digantikan oleh KRI Bima Suci. Walaupun begitu, tugas KRI Dewaruci sebagai kapal pelatihan taruna dan taruni masih tetap dipegang oleh kapal ini. Selain itu, KRI Dewaruci juga memiliki tugas lainnya yaitu berlayar keseluruh pelosok Indonesia untuk mengenalkan kapal ini di masyarakat dan menjadi duta maritim Indonesia. “Sekarang kita tugas kami juga untuk mengenalkan KRI Dewaruci ke seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas Komandan Letkol Laut (P) Hastaria.
Sebagai sang legenda, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia terus menantikan kiprah dari KRI Dewaruci itu sendiri. Kapal ini memiliki daya pikatnya yang begitu menarik, sehingga mampu menciptakan rasa bangga bagi seluruh masyarakat Indonesia dan rasa takjub bagi seluruh masyarakat dunia yang melihatnya.

Tulisan ini dipublikasikan di Laut Masa Depan Kita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.