Saya mengutip beberapa penjelasan dari orang-orang yang berpengalaman dalam hal menulis paper untuk jurnal internasional yang bisa juga kita terapkan. YUKS SIMAK apa kata mereka.
v Secara Umum
TIDAK PERLU memasukkan kalimat atau pernyataan terkait pengetahuan umum.
Menstrukturkan pola pikir (konsistensi, jangan melebar dari pokok bahasan).
Selalu memasukkan komponen STATE OF THE ART (kontribusi dari jurnal tersebut, originalitas dan novelty atau pembaharuan baik teori, formula, maupun rekomendasi)
– Gambarkan perkembangan terkini tentang suatu topic yang dihasilkan oleh masyarakat peneliti dunia.
– Menentukan dimana kontribusi peneliti dalam riset yang dijalankan.
– Menentukan novelty yang akan dikembangkan.
Satu paragraph 3-7 kalimat, satu ide kalimat pada tiap paragraph.
Buat terlebih dahulu PEMBAHASANnya baru ke yang lainnya dan terakhir ke abstrak dan judul.
Gunakan LITERATUR berupa JURNAL yang terindeks.
Setelah selesai baca kembali tulisan berkali-kali, jangan ada TYPO dan kalimat yang bermakna AMBIGU (pembaca tidak memhami maksudnya).
v TITLE
Sebuah kalimat menggambarkan kontribusi yang signifikan dari isi paper. (Buat singkat, padat dan bikin penasaran hingga orang ingin membacanya, progress gak usah dimasukkan untuk judul).
5-14 kata mengandung kata kunci dari masalah atau obyek yang dibahas dalam artikel.
v Abstract
Buat kurang lebih 200 kata dengan 9-10 kalimat.
3 kalimat pertama untuk konteks penelitian.
3 kalimat kedua untuk methodology
3 kalimat terakhir hasil signifikansi dan kontribusi penelitian.
Pastikan hasil penting penelitian kita (yang beda dari yang lain) masuk dalam abstrak.
v Introduction
Paragraph pertama gunakan data dan quote yang menarik atau gunakan contoh yang terefrensi dan dapat diverifikasi.
Semua variabel, pemilihan material dijelaskan semua sesuai dengan literatur.
Memposisikan peneliti pada penelitian dengan critical review. (misal pada penelitian A seperti ini, pada penelitian B seperti ini, pada penelitian C seperti ini namun mereka belum melakukan atau mencapai hasil seperti d maka peneliti melakukan D.)
v Methodology
Justifikasi (tanpa data)
Cara mendapatkan data (sampel), cara mengkoleksinya dan menganalisis data tersebut.
v Results and Discussion
Menganalisis hasil (jangan memaparkan data melalui tabel tanpa analisis)
Menulis langsung pada pokok pembahasan (straight for word), tulis yang relevan sesuai tema penelitian.
Jika ada publikasi orang lain, dibahas dengan cara/bahasa yang lain yang lebih menarik.
bahas sintesa analisis dan nyatakan rekomendasi di akhir pembahasan.
Semburan lumpur panas di desa Renokenongo, Kecamata Porong sejak Mei 2006 menjadikan kecamatan di Sidoarjo ini dikenal banyak orang. Bencana dengan skala nasional menjadi pusat perhatian selama beberapa tahun kebelakang. Beberapa upaya dilakukan untuk mengatasinya hingga membentuk sebuah pulau yang saya sendiri lebih suka menamainya Pulau Lumpur dengan melihat sejarah pembentukannya. Warga dan wisatawan cenderung mengenalnya dengan sebutan Pulau Sarinah karena pulau buatan tersebut berhimpitan dengan Pulau Sarinah yang sudah lebih dulu terbentuk secara alami.
Pulau Lumpur, kini ditumbuhi ekosistem mangrove lebih dari tujuh jenis mangrove sejati yang tumbuh dan berkembang dengan baik (Prasenja, 2017). Sehingga menjadikan Pulau Lumpur sebagai habitat beberapa jenis burung seperti Kuntul Kecil, Belibis Kembang, Camar dan jenis-jenis lainnya yang biasa hidup di ekosistem mangrove.
Pulau Lumpur dapat diakses dari jembatan Porong dijalan Gempol menuju Dermaga Tlocor yang berjarak 19 km dengan jalan aspal kondisi baik yang dapat ditempuh + 15-20 menit menggunakan kendaraan bermotor. Sepanjang jalan akses menuju Dermaga Tlocor sudah dipasangi penunjuk arah sepanjang persimpangan jalan sehingga kita tidak perlu takut untuk tersesat.
Dermaga Tlocor merupakan dermaga penyebrangan terdekat menuju Pulau Lumpur. Ada beberapa fasilitas yang sudah terbangun untuk menunjang ecowisata mangrove Pulau Lumpur baik oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat diantaranya dermaga tambatan perahu, mushola yang sedang dibangun dengan dana swadaya, panggung hiburan, tugu aku cinta lingkungan, sepeda air, warung dan lahan parkir dengan luas 420 m2.
Setiap sabtu dan minggu atau hari libur, Dermaga Tlocor selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal baik yang sekedar tamasya di sekitaran dermaga, memancing atau berkeliling Pulau Lumpur dengan menggunakan perahu (Prasenja, 2017). Jika sekedar bertamasya di dermaga, pengunjung tidak dikenakan biaya apapun namun apabila ingin berkeliling Pulau Lumpur dikenakan tarif Rp. 10.000,- per orang dengan durasi waktu jelajah perahu 15-20 menit. Namun dikarenakan masih dalam proses serah terima asset Pulau Lumpur dari Badan Penanggulangan Lumur Sidoarjo (BPLS) kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pengunjung belum diperbolehkan memasuki areal pulau yang masih dalam pengawasan dan pengamanan Koramil Kecamatan Jabon (Prasenja, 2017). Pengawasan dan pengamanan Koramil bertujuan agar mencegah terjadinya konflik atas pemanfaatan pulau oleh masyarakat nelayan dan pencurian ikan di tambak silvofishery yang ada di dalam Pulau Lumpur (Prasenja, 2017).
Beberapa waktu lalu, kunjungan saya ke Pulau Lumpur dalam rangka riset namun moment ini saya gunakan juga untuk berekreasi menikmati keindahan Pulau Lumpur dari dalam yang tidak semua orang diberikan akses untuk masuk. Dari Dermaga Tlocor saya menelusuri sungai Porong dengan lebar + 130 meter menggunakan perahu nelayan bermesin tempel. Sejauh mata memandang pengunjung akan dimanjakan hamparan mangrove Avicennia alba/Api-Api danAvicennia marina/Api-Api Putih dan sekawanan Kuntul dan Belibis yang berterbangan dan bertengger di dahan mangrove.
Sisi tenggara sungai Porong dari kejauhan Nampak dengan jelas gunung Arjuno dengan latar hamparan tambak. Pemandangan indah nan eksotik pesisir, laut dan terestrial yang jarang bisa dinikmati sekaligus. Selain itu, sepanjang perjalanan menelusuri sungai Porong juga disuguhkan aktivitas nelayan dengan sampan atau perahu kecilnya beraktivitas menjala dan memancing ikan disepanjang sungai.
Sesampainya di Pulau Lumpur, Perahu ditambatkan pada dermaga kayu kecil namun masih kokoh menopang 3 hingga 5 perahu yang bersandar. Dari dermaga saya berjalan menelusuri jalan setapak dengan lebar + 3 meter beralaskan batu conblock yang terpasang hanya sekitar 15 meteran yang tersambung jalan tanah padat. Kiri-kanan jalan nampak hamparan mangrove dengan tinggi mencapai 6 meter.
Didalam Pulau Lumpur sendiri sudah terbangun beberapa sarana antara lain menara pantau yang kondisinya masih cukup baik, rumah genset, gazebo, jembatan yang membelah tambak silvofishery, toilet 3 buah, sumur sebagai sumber air tawar, tracking mangrove sepanjang 104 meter dan jalan pedestrian sepanjang 218 meter yang tersusun dari batu alami dengan kondisi baik namun tidak terawat (Prasenja, 2017). Sarana tersebut dibangun sebagai sarana pendukung di Pulau Lumpur untuk dijadikan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) yaitu sebuah konsep ekowisata berbalut eduwisata yang dikembangkan KKP.
Ekowisata PRPM di Pulau Lumpur nantinya bukan sekedar menampilkan keindahan ekologi sebagai daya tarik objek wisata, namun edukasi pengunjung untuk ikut serta mengkonservasi kawasan -menjaga kebersihan, tidak merusak dan ikut menanam mangrove menjadi penting dalam keberlanjutan wisata (Prasenja, 2017). Dengan demikian wawasan pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan didalam pengelolaan ekowisata di Pulau Lumpur nantinya.
Pulau dengan luas 94 ha ini sungguh ciamik, ketika kita berada didalamnya seperti berada di negeri antah berantah yang mempesona. Kicauan burung-burung merdu, desiran angin sungguh memanjakan telinga. Ekosistem mangrove yang terbentuk pun menurunkan suhu mikro beberapa derajat celcius dari teriknya matahari yang menyinari Sidoarjo.
Tiap sudut pulau tidak terlewat dari bidikan kamera saya untuk mengabadikannya, karena saya yakin nantinya PRPM Pulau Lumpur akan menjadi destinasi wisata baru dengan daya Tarik yang berbeda. Semua tergantung niat baik semua stakeholder yang terlibat didalamnya. Bagi saya kelestarian adalah sebuah investasi alam, keindahan yang dinikmati adalah hasil dari upaya pelestarian.
Sumber:
Prasenja, Yanelis. (2017). STRATEGI PENGELOLAAN EKOMINAWISATA MANGROVE (Kasus Pulau Lumpur di Muara Sungai Porong). Tesis. UI.
Kerusakan pantai di Karangsong telah terjadi sejak dahulu. Terdapat sekitar 45 ha lahan tanah timbul akibat sedimentasi di Karangsong selama kurun waktu 1969 – 1983 (WI-IP, 2001). Akan tetapi, sayangnya, sekitar tahun 1985-an masyarakat mulai mengkonversi mangrove di sempadan pantai untuk tambak dan peruntukan non mangrove. Bahkan sejak 1983 – 2008, sedikitnya 127.30 ha pantai Karangsong terabrasi. Salah satu penyebabnya karena dibelokannya aliran DAS Sungai Cimanuk pada tahun 1983 ke arah Waledan-Lamaran Tarung. Pembelokan tersebut menyebabkan perairan pesisir Desa Karangsong tidak lagi mendapatkan suplai sedimen.
Implikasi dari kerusakan ekosistem mangrove telah banyak dirasakan oleh masyarakat pesisr Desa Karangsong, salah satunya yaitu hasil tangkapan yang semakin menurun. Oleh karena itu, KKP melalui Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut berupaya untuk memulihkan kerusakan wilayah pesisir tersebut guna mendukung industrialisasi perikanan serta mengantisipasi perubahan iklim global. Berbagai program telah dilakukan sejak tahun 2009 melalui penanaman sebanyak 110.000 batang Rhizophora, tiga tahun berselang yaitu pada tahun 2012 dilakukan pula penanaman 26.000 mangrove melalui dana dekonsentrasi. Dilanjutkan melalui dana dekonsentrasi pula, pada tahun 2013 sebanyak 26.000 batang mangrove dan tahun 2014 sebanyak 21.000 batang mangrove.
Pada tahun 2015 KKP melalui Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut melakukan penanaman mangrove sebanyak 306.500 batang mangrove dan membangun bedeng pembibitan yang mampu menampung 50.000 bibit sekali melakukan pembibitan. Penanaman yang dilakukan bertujuan untuk mengatasi kerusakan dan melakukan perbaikan lingkungan dan pembuatan bedeng pembibitan dilakukan guna menyediakan bibit yang tingkat harapan hidupnya tinggi untuk penyulaman dan perluasan upaya rehabilitasi di Karangsong. Karena program rehabilitasi menjadi penting dengan pemulihan ekosistem seperti penanaman mangrove dan lain sebagainya prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan pesisir dan lautan.
Pengelolaan ekosistem (hutan) mangrove hendak nya mencakup tiga bentuk kegiatan pokok (Santoso, 2000 dengan perubahan) , yakni :
a. Pengusahaan hutan mangrove yang kegiatannya dapat dikendalikan dengan penerapan sistem silvikultur dan pengaturan kontrak (pemberian konsensi).
b. Perlindungan dan pelestarian hutan mangrove yang dilakukan dengan cara menunjuk, menetapkan dan mengukuhkan hutan mangrove menjadi hutan lindung, hutan konservasi (Suaka Alam, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Hutan Wisata, d an lain sebagainya) dan kawasan lindung lainnya (Jalur hijau, sempadan pantai/sungai, dan lain sebagainya )
c. Rehabilitasi kawasan mangrove yang rusak sesuai dengan tujuan pengelolaannya dengan pendekatan pelaksanaan dan penggunaan iptek yang tepat guna.
Saat ini pun sudah banyak dikembangkan suatu pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove partisipatif yang melibatkan masyarakat. Ide ini dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa masyarakat pesisir yang relatif miskin harus dilibatkan dalam pengelolaan mangrove dengan cara diberdayakan, baik kemampuannya (ilmu) maupun ekonominya. Pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove yang dikembangkan adalah pola partisipatif meliputi: komponen yang diawasi, sosialisasi dan transparansi kebijakan, institusi formal yang mengawasi, para pihak yang terlibat dalam pengawasan, mekanisme pengawasan, serta insentif dan sanksi (Santoso, 2000).
Pengelolaan ekosistem mangrove secara partisipatif yang melibatkan masyarakat maupun swasta antara lain dengan membangun Taman Wisata Alam Ekosistem Mangrove (TaWA EMang) dan sejenisnya. Konsep TaWA EMang kemudian dapat dikembangkan menjadi PRPM dengan menambahkan wisata edukasi atau eduwisata dan partisipasi pada program adopsi mangrove serta fasilitas-fasilitas penunjang.
1.2. Fasilitas dan Program di dalam PRPM
1.2.1. Papan Informasi
Papan informasi merupakan benda yang sangat penting untuk dipasang di lokasi wisata khususnya PRPM. Papan informasi dipasang di lokasi-lokasi strategis PRPM antara lain pada pintu masuk lokasi, persimpangan jalur tracking, pos teduh, menara pandang dan vegetasi mangrove sepanjang jalur tracking. Informasi yang disampaikan pada papan tersebut berupa peta lokasi PRPM dan nama-nama vegetasi mangrove.
Gambar: Ilustrasi Papan Informasi PRPM
1.2.2. Jalur Tracking
Jalur tracking merupakan jalan setapak yang terbuat dari papan kayu yang disusun melintang dengan lebar 1,5-2 meter membentang sepanjang luasan lokasi PRPM. Tujuan dari pembuatan jalur tracking adalah membuat mudah pengunjung berjalan di hamparan hutan mangrove sehingga memberikan kenyamanan dan keamanannya. Pengunjung dapat menikmati asrinya hutan mangrove dan iklim mikro di hamparan hutan mangrove yang sejuk sehingga pengunjung dapat menikmati kenyamanannya.
Gambar :Ilustrasi Jalur Tacking PRPM
1.2.3. Pos Teduh
Pos teduh merupakan fasilitas bangunan di PRPM yang berupa rumah atau gubug kecil tanpa dinding pembatas, hanya pagar yang mengelilingi bangunan tersebut. Pos teduh terbuat dari material kayu dan alami lainnya yang berfungsi selain tempat beristirahat atau berteduh juga menampilkan kesan alamiah dari bangunan tersebut. Pos teduh berfungsi sebagai tempat berteduh atau beristirahat saat mengelilingi PRPM yang luas.
1.2.4. Menara Pandang
Menara pandang merupakan bangunan yang menjulang tinggi melebihi tinggi vegetasi mangrove yang ada di lokasi PRPM. Menara pandang berfungsi sebagai tempat pengunjung untuk menikmati laskap PRPM dari atas. Selain itu menara pandang bisa digunakan sebagai tempat pengamatan burung dan satwa lain yang hidup di hutan mangrove.
Menara pandang dibuat dengan kostruksi yang kokoh dan tahan dari terpaan angin. Material yang digunakan bisa berupa kayu atau besi dengan dilapisi anti karat untuk material besi agar tidak mudah korosi.
1.2.5. Eduwisata
1.2.5.1. Ayo Tanam Mangrove (ATM)
Ayo Tanam Mangrove (ATM) merupakan kegiatan/program berupa ajakan kepada pengunjung untuk ikut partisipasi melestarikan mangrove dengan menanamnya. Kegiatan ini diharapkan dapat mengkampanyekan pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan.
Saat melakukan penanaman mangrove, pengunjung dapat berpose dan berfoto bersama. Nantinya foto-foto tersebut akan di share ke media sosial atau blog masing-masing pengunjung sehingga kampanye menjaga kelestarian ekosistem mangrove dapat tersebar luas dengan bantuan pengunjung.
1.2.5.2. Adopsi Mangrove
Setelah menanam, pengunjung dapat mengadopsi pohon yang ditanamnya sebagai upaya melestarikan mangrove. Adopsi pohon merupakan kegiatan/program partisipasi pengunjung baik perorangan maupun kelompok dalam upaya menumbuhkan dan memelihara mangrove. Jangka waktu kegiatan ini minimal 2-3 tahun berjalan dengan biaya perawatan akan dibebankan kepada pihak yang mengadopsinya.
Pohon-pohon yang diadopsi akan diberikan papan nama dan kode penomeran sehingga identitas pemilik dapat diketahui dengan jelas sebagai pelaporan hasil pertumbuhan pohon mangrovenya. Pelaporan kepada pemilik pohon dilakukan secara berkala tiap tiga bulan sekali dalam bentuk Sertifikat Pertumbuhan Mangrove atau mengakses melalui web PRPM. Sertifikat Pertumbuhan Mangrove berisi informasi identitas orang/kelompok pengadopsi mangrove, foto dan informasi kemajuan pertumbuhan mangrove seperti tinggi pohon, diameter batang dan jumlah daun atau diameter tajuk.
1.2.5.3. Jelajah PRPM
Jelajah PRPM merupakan jenis permainan tim seperti mencari jejak pada kegiatan Pramuka. Peserta akan dibekali peta lokasi PRPM dan pertanyaan terkait lokasi yang akan dituju peserta permainan. Metode ini merupakan upaya edukasi yang dikemas secara menarik agar pengunjung dapat mengetahui segala hal tentang ekosistem mangrove.
Pengamatan lapangan padang lamun dilakukan di Pulau Pramuka, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia pada tanggal 14-15 November 2014. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui biota-biota di padang lamun, komposisi jenis lamun, sebaran, tipe vegatasi, tipe substrat, luas tutupan, kerapatan, biomas dan pengumpulan data awal stok karbon padang lamun.
Ember Pelampung sebagai wadah peralatan penelitian. (Pemilu2019/Prasenja)
Kuadrat sebagai tempat menentukan lokasi pengamatan. (Pemilu2019/Prasenja)
Pada pengamatan biota di sekitar ekosistem lamun di Pulau Pramuka ditemukan berbagai biota laut seperti moluska, opivullum, udang dan siput. Pengamat juga mencatat kehadiran ikan, kepiting dan ubur-ubur. Biota diamati sepanjang transek tegak lurus pantai, dilakukan bersama-sama saat pengukuran zonasi lamun.Lebar area pengamatan 1 m eter ke kanan dan 1 meter ke kiri, b iota yang dijumpai sepanjang transek dicatat dan difoto seperti terlihat pada gambar 2.1 sedangkan Hasil pengamatan terangkum dalam tabel 2.1 sebagai berikut:
Tabel 2.1
JARAK (m)
BIOTA
JUMLAH
KETERANGAN
0-4
Moluska
3
Pengukuran dr Batu ke lamun
5-7
Opivullum
3
Lubang
7-11
Udang
9
Kehadiran Ikan (meter ke-8)=2
Opivullum
5
Kehadiran Kepiting (meter ke-9)=1
12-16
Opivullum
11
Kehadiran ubur-bur (meter ke-14)
Udang
9
17-19
Opivullum
3
Kehadiran Ubur-bur (meter ke-17.5)
Udang
1
20-24
Moluska (Kerang bulu)
1
Kehadiran ubur-ubur
24-28
–
–
Kehadiran ubur-ubur
29-30
siput
1
Kehadiran ubur-ubur
Pengukuran lokasi pengambilan sampel. (Pemilu2019/Prasenja)
Tumbuhan Lamun yang ditemukan di pesisir Pulau Pramuka adalah Halodule Uninervis , Cymodocea Rotundata , Thalassia Hemprichii dan Halophilla ovalis . Ciri-ciri Halodule uninervis adalah memiliki bentuk d aun memanjang dan sempit , ujung daunnya yang berbentuk trisula dengan satu vena sentral yang membujur dengan ukuran lebar daun 1-1,7milimeter. Ciri-ciri Cymodocea rotundata adalah tepi daun bergerigi, akar tiap nodus banyak dan bercabang, tulang daun sejajar, satu tegakan terdiri dari 2-3 helai daun . Ciri-ciri Thalassia Hemprichii adalah daun lurus sampai sedikit melengkung, tepi daun tidak menonjol, panjang daun mencapai 20 cm, lebar mencapai 1 cm, seludang daun tampak nyata dan keras dengan panjang 3-6 cm, rimpang keras, menjalar, dan ruas-ruas rimpang mempunyai seludang. Sedangkan ciri dari Halophilla ovalis adalah tiap nodus terdiri dari 2 tegakan, mempunyai akar tunggal di setiap nodus, tulang daun menyirip.
Pengamatan k erapatan, luas tutupan dan biomas pada padang lamun Dilakukan sepanjang transek tegak lurus pantai. Transek permanen panjang 50m tegak lurus pantai sebanyak 1 buah (Seagrass Watch–Komunitas). Dari pengamat ditemukan bahwa kerapatan dan luas tutupan di padang lamun di pesisir Pulau Pramuka mencapai 5-95% dengan species lamun paling banyak yang ditemukan adalah Thalassia hemprichii .
Pak Wawan sedang menunjukan jenis-jenis lamun. (Pemilu2019/Prasenja)
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 200 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun, lamun memiliki tingkat kerusakan tinggi jika luas area kerusakan > 50% dan dikategorikan rusak jika penutupan berkisar 29,9 – 59,9%. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut, tingkat kerusakan lamun di Pulau Pramuka bervariasi antara rusak sampai masih tergolong baik.
Untuk menentukan kerapatan setiap jenis lamun maka setelah dilakukan pengumpulan sample maka dilakukan pemilahan dan penghitungan jumlah tunas dan batang kemudian ditimbang seperti dapat dilihat pada gambar 2.3 untuk selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan hasil dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2 Kerapatan dan Berat Basah Setiap Jenis Lamun Dalam Segmen
Kode
Jenis
Kerapatan per m2
Berat basah (gram) per m2
Akar
Rimpang
Pelepah daun
Helai daun
Total
T1-1
Cynodocea rotundata
475
54.5
233.5
122
54.25
0
Thalassia hemprichii
425
275.5
512
318.5
202
0
T1-2
Halophila ovalis
425
0
0
0
27.5
0
Cynodocea rotundata
700
215.25
187.75
237.75
365.5
0
Thalassia hemprichii
550
68.25
133.5
191
161.75
0
T1-3
Halophila ovalis
275
0
0
0
0
3
Cynodocea rotundata
650
11
90.25
92
88
0
Thalassia hemprichii
675
109.5
580.75
640.5
381
0
Rumput laut
0
0
0
0
1341.75
T1-4
Halophila ovalis
1950
28.75
33.5
0
41.25
0
Cynodocea rotundata
850
76
198.25
202
96.25
0
Thalassia hemprichii
675
18.5
377.25
308
196.75
0
T1-5
Halophila ovalis
2425
0
0
0
0
73.25
Cynodocea rotundata
250
10.75
45.25
40
3.5
0
Thalassia hemprichii
225
46.75
126.5
246
112.5
0
Halodule uninervis
2425
135.5
120.5
37.25
20.5
0
Pada Tabel 2.2. dapat dijelaskan bahwa Thalassia hemprichii memiliki kerapatan yang bervariasi dalam setiap segmen dengan kerapatan tertinggi pada segmen trasek 1-2, sedang Cynodocea rotundata kerapatan tertinggi ada pada segmen trasek 1-4. Halophila ovalis memiliki kerapatan tertinggi pada segmen trasek 1-5 dan Halodule uninervis hanya ditemukan pada segmen trasek 1-5 dengan kerapatan 2425 per m2 .
Dalam pengamatan lamun, dilakukan juga pengambilan sampel lamun. Pengambilan sampel kerapatan dan biomas jenis kecil (non Enhalus ) mengunakan bingkai 20 x 20 cm.Semua lamun dalam bingkai 20 x 20 cm diambil kemudian dimasukan kantung plastik, diberi label. Di base camp sampel di cuci, pisahkan menurut jenisnya, hitung jumlah tunas, pisahkan menurut bagian tananam bungkus dengan kertas samson, dikeringkan ditimbang beratnya. Pada riset yang sesungguhnya, tujuan akhir pengambilan sampel lamun adalah untuk menghitung stok karbon yang tersimpan di suatu padang lamun pada suatu daerah tertentu. Hasil pengumpulan sampel dapat dilihat pada table 2.3 sebagai berikut:
Tabel 2.3 Jumlah Tunas dan Berat Basah Setiap Jenis Lamun Dalam Segmen
Kode
Jenis
Jumlah tunas per 20×20 cm
Berat basah (gram) per 20×20 cm
Akar
Rimpang
Pelepah daun
Helai daun
Total
T1-1
Cynodocea rotundata
19
2.18
9.34
4.88
2.17
Thalassia hemprichii
17
11.02
20.48
12.74
8.08
T1-2
Halophila ovalis
17
1.1
Cynodocea rotundata
28
8.61
7.51
9.51
14.62
Thalassia hemprichii
22
2.73
5.34
7.64
6.47
T1-3
Halophila ovalis
11
0.12
Cynodocea rotundata
26
0.44
3.61
3.68
3.52
Thalassia hemprichii
27
4.38
23.23
25.62
15.24
Rumput laut
53.67
T1-4
Halophila ovalis
78
1.15
1.34
1.65
Cynodocea rotundata
34
3.04
7.93
8.08
3.85
Thalassia hemprichii
27
0.74
15.09
12.32
7.87
T1-5
Halophila ovalis
97
2.93
Cynodocea rotundata
10
0.43
1.81
1.6
0.14
Thalassia hemprichii
9
1.87
5.06
9.84
4.5
Halodule uninervis
97
5.42
4.82
1.49
0.82
DAFTAR PUSTAKA
Arber , Agnes Robertson 1920.Water plants; a study of aquatic angiosperms. Botany Publisher,Cambridge, Inggris.
Atmini, Sri dkk, 2014. Refleksi 2010-2014 dan Agenda 2015-2019 “Laut Masa Depan Kita” , Ditjen KP3K. Jakarta
Aziz, Ikhsan Abdul, 2010. Keterkaitan Komunitas Makrozoobentos dengan Ekosistem Lamun di Kawasan Rehabilitasi Lamun Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Tesis Program Pasca Sarjana. InstitutPertanian Bogor. Bogor, Indonesia
Fahruddin. 2002. Pemanfaatan, Ancaman, dan Isu-isu Pengelolaan EkosistemPadang Lamun. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana. InstitutPertanian Bogor. Bogor, Indonesia
Fortes,M.D. 1989. Seagrasses: a resource unknow in the Asean region . Iccarm Education, Manila, Filipina
Kiswara, Wawan. 2013. Tehnik transplantasi lamun yang mudah dan murah: Tunas tunggal Enhalus acoroides dan kumpulan tunas Thalassia hemprichii di Pulau Pari, Jakarta. Pusat Penelitian Oseanografri – LIPI
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 200 Tahun 2004 Tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun
Rudyanto, Arifin Ir, MSc., PhD, 2004. Kerangka Kerjasamadalampengelolaan Sumber DayaPesisir dan Laut.Makalah Kerjasama Pembangunan Sektoral dan Daerah. Bappenas, Jakarta, Indonesia
Sahetapy, D. 2013. Materi Kuliah Pengelolaan Sumberdaya Hayati Pesisir Laut dan Pulau-pulau Kecil. Program Studi Ilmu Kelautan, Program Pasca Sarjana Universitas Pattimura Ambon. Ambon
Surat Edaran Dinas Hidro Oseanografi Nomor 1641 Tahun 2012 tentang Data Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Umat muslim di Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur menyembelih hewan kurban pada hari Minggu (5/10). Pada perayaan hari Raya Idul Adha 1435 H yang dirayakan seluruh umat muslim di dunia, umat muslim yang mampu disunahkan berkurban sebagai ketaqwaan kepada Allah SWT. Foto-foto cerita ini ditampilkan hitam putih agar darah-darah dari hewan kurban tersebut tidak membuat jijik atau merinding bagi yang tidak terbiasa melihatnya. 🙂
Sapi kurban yang siap disembelih harus sudah dewasa dan sehat. (Prasenja-Pemilu2019)
Hewan kurban menjadi tontonan anak-anak di perkotaan. (Prasenja-Pemilu2019)
Cavi’i yang nampak serius memandang hewan kurban. (Prasenja-Pemilu2019)
Sapi kurban yang siap disembelih. (Prasenja-Pemilu2019)
Kambing kurban yang sudah dibaringkan untuk disembelih. (Prasenja-Pemilu2019)
Lubang penyembelihan yang dipenuhi darah. (Prasenja-Pemilu2019)
Pak Umar yang telah selesai menyembelih hewan kurban. (Prasenja-Pemilu2019)
Pak Umar yang sedang membersihkan goloknya usai menyembelih hewan kurban. (Prasenja-Pemilu2019)
Kambing kurban yang telah disembelih, dibawa untuk disiangi. (Prasenja-Pemilu2019)
Kambing kurban yang telah disembelih, dibawa untuk disiangi. (Prasenja-Pemilu2019)
Kambing kurban yang telah disembelih, siap untuk dikuliti. (Prasenja-Pemilu2019)
Kambing kurban yang telah disembelih, siap untuk dikuliti. (Prasenja-Pemilu2019)
Hewan kurban yang sedang disiangi yang kemudian dibagikan kepada warga sekitar. (Prasenja-Pemilu2019)
Potret Pak Umar si penyembelih hewan kurban. (Prasenja-Pemilu2019)
Jakarta (Pemilu2019) – Haryanto seorang penjual akik asal Madura mengaku bisa mendapatkan omzet hingga sepuluh juta perbulan. Bapak dengan tiga orang anak ini sudah berjualan akik sejak tahun 1998. “Dari akik saya sudah bisa menyekolahkan dua anak saya lulus Akmil dan si Bontot pun akan menyusul kakaknya.” Menurut Haryanto dengan logat Maduranya.
Haryanto, pedagang akik di Senopati sedang menunjukkan akik dagangannya. (Prasenja-Pemilu2019)
Jalan Senopati, sisi selatan Benteng Vredeburg, Yogyakarta Nampak berjejer pedagang batu akik. Salah satu pusat akik di Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan “ngarep BI” ini menawarkan batu akik mulai dari harga sepuluh ribu rupiah hingga jutaan rupiah.
Pedagang akik di jalan Senopati, Yogyakarta yang selalu laris. (Prasenja-Pemilu2019)
Haryanto mengakui bisnis akik tak pernah lesu, sejak 1998 hingga kini penjualan akik mengalami peningkatan. Nilai mistis yang dikandungnya membuat akik di sukai kalangan bawah hingga para pejabat. Disinyalir batu akik dapat memunculkan karisma atau wibawa si pemakainya bahkan banyak yang berpendapat memakai akik dapat meningkatkan penghasilan. Haryanto pun membenarkan opini yang beredar tersebut. “Sebagai seorang muslim kita pun tidak boleh percaya itu, bisa musyik. bagi saya cukup dijadikan perhiasan yang mempunyai nilai jual tinggi saja.” tambah Haryanto seraya tersenyum lebar.
Haryanto menuturkan bahwa akik-akik ini dia dapatkan dari Pasar Rawa Bening Jakarta. “disana akik dari daerah mana saja ada dan harganya lebih murah.” komentarnya ketika ditanyai asal akik-akik tersebut. Biasanya Haryanto berbelanja sebulan sekali ke Jakarta atau dia titipkan anaknya yang bekerja di Polisi Militer Angkatan Laut Jakarta yang kemudian dipaketkannya.
Batu akik yang dijual di Jalan Senopati, Yogyakarta. (Prasenja-Pemilu2019)
Memang animo masyarakat akan akik belakangan ini sangat tinggi karena mistisnya dan ditambah lagi berita tentang temuan akik di Cilandak yang bernilai jutaan rupiah. Maka tidak heran jika akik Indonesia pun diburu pencintanya di mancanegara. Menggiurkan bukan!
Haryanto yang sedang memoles akik dagangannya. (Prasenja-Pemilu2019)