Kerangka Dasar Membangun Ekonomi Biru di Segara Anakan Melalui Partisipasi Masyarakat

Jakarta (Pemilu2019) – Laguna Segara Anakan merupakan sebuah ekosistem yang menarik dan unik karena proses terbentuknya secara tektonik yang tidak semata-mata terjadi karena proses sedimentasi yang terbentuk karena adanya pulau penghalang (barrier island ) sebagaimana merupakan sebuah ciri laguna. Daerah ini merupakan tempat tumbuhnya ekosistem mangrove yang paling luas di pulau Jawa yang juga merupakan sebagai tempat perlindungan beberapa burung dan hewan darat yang khas ekosistem mangrove serta tempat pemijahan dan pengasuhan biota laut.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Segara Anakan mengalami permasalahan serius dalam hal pendangkalan dan penyempitan laguna. Sedimen-sedimen seperti lumpur dan juga sampah yang terangkut dari hulu melalui sungai Citandui dan sungai Cimeneng sangat intensif, hingga mencapai 1 juta m3 /tahun yang mengendap di laguna.

Pendangkalan dan penyempitan laguna mengakibatkan terbentuknya tanah timbul pun menjadi permasalahan yang tak kunjung usai yang dihadapi oleh ekosistem terluas di selatan pulau Jawa ini. Selain keterlibatan pemerintah baik pusat dan daerah, prilaku sosial masyarakat lokal sebagai partisipasi masyarakat merupakan faktor penting dalam menurunkan tingkat kerusakan dan dampak yang ditimbulkannya pada ekosistem laguna Segara Anakan sebagai dasar pengelolaan ekonomi pada ekosistem pesisir secara berkelanjutan atau yang disebut konsep ekonomi biru.

Selain karena faktor alami, kerusakan ekosistem juga dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain: (1) masih rendahnya kesadaran masyarakat akan arti penting dan nilai strategis sumber daya alam yang terkandung pada ekosistem laguna Segara Anakan ; (2) lemahnya penegakan hukum atas pelanggaran pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam;   (3) belum kondusifnya upaya pelaksanaan penataan ruang serta pengendalian pencemaran lingkungan pada ekosistem laguna Segara Anakan; dan (4)   tekanan ekonomi masyarakat akibat kemiskinan yang membuat pertimbangan ekonomi lebih dominan dari pada kelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan faktor-faktor tersebutlah pendekatan partisipasi masyarakat melalui kegiatan ekonomi masyarakat perlu dijadikan dasar dalam pengelolaan ekosistem di laguna Segara Anakan.

Upaya Rehabilitasi

Upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat di hulu sungai Citanduy terutama di kecamatan Padaherang dan kecamatan Cimanggu baru sebatas reboisasi atau penanaman pohon seperti Jati, Albasia, Mahoni dan lain sebagainya. Pengetahuan masyarakat sebatas bahwa dengan menanam pohon dapat mencegah longsor dan menyimpan air sehingga kebutuhan akan air tanah bagi mereka sudah terpenuhi. Penanaman itupun dilakukan karena program pemerintah, bukan sebuah kesadaran masyarakat sepenuhnya.

Peran serta masyarakat dalam usaha-usaha konsevasi erat kaitannya dalam berbagai hal seperti pendidikan, adat istiadat, lingkungan hidupnya dan lain-lain (Mulyadi, 2009). Melalui pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya sebuah kelestarian dan tata cara dalam pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan. Dengan meningkatnya kelestarian ekosistem Segara Anakan maka akan meningkat pula hasil tangkapan nelayan dan budidaya yang dilakukannya.

Ketergantungan Masyarakat Terhadap Laguna Segara Anakan

Segara Anakan merupakan salah satu laguna didunia sebagai sumber plasma nutfah keanekaragaman sumberdaya hayati dan non hayati dengan ekosistem estuarinya. Segara Anakan sendiri menyimpan kekayaan hayati ekosistem mangrove yang berlimpah di pulau Jawa. Berbagai macam spesies mangrove hidup dan berkembang di Segara Anakan, sehingga menjadi tempat memijah berbagai jenis ikan.

Ketergantungan masyarakat terhadap laguna Segara Anakan dapat terlihat dari usaha-usaha pemanfaatan potensi yang ada di laguna Segara Anakan. Prilaku masyarakat tercermin dari adaptasi yang dilakukan dalam pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang dikembangkan seperti penggunaan jaring apung, usaha penangkapan, budidaya tambak dan lain sebagainya.

Terkait dengan prilaku nelayan seperti di Ujung Alang dapat dilihat dari metode penangkapan serta alat tangkap yang digunakan. Lokasi kerjanya yang merupakan perairan pedalaman yang tidak terpengaruh oleh ombak besar maka metode penangkapannya menggunakan jaring apung dan jala saja yang dipasang di perairan laguna. Hasil tangkapan tergantung dari ketersediaan sumberdaya ikan yang ada diperairan Segara Anakan sehingga mau tidak mau mereka pun berkewajiban untuk menjaga ekosistem tersebut dengan tidak merusak mangrove sebagai habitat dari ikan.

Konflik Masyarakat di Laguna Segara Anakan

Permasalahan di Segara Anakan sangatlah kompleks karena banyak stakeholder yang berkepentingan dalam pengelolaan maupun pemanfaatan laguna. Program-program yang dilakukan di Segara Anakan menuai hasil yang belum optimal, hal ini dikarenakan faktor masyarakat yang kurang perhatian akan arti pentingnya sebuah ekosistem maupun pelaksanaan kebijakan pemerintah yang dilematis.

Berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan maupun pemanfaatan Laguna Segara Anakan harus dapat menyeimbangkan kewenangan serta tanggung jawab untuk menghindari dominasi yang memicu konflik kepentingan. Tanggung jawab yang jelas antar stakeholder merupakan suatu proses keorganisasian dalam pengelolaan Laguna Segara Anakan yang ideal untuk pengambil keputusan terhadap langkah-langkah pengelolaan selanjutnya.

Silvofishery Merupakan Partisipasi Masyarakat Untuk Pelestarian Ekosistem

Sistem ini merupakan alternatif pemecahan masalah pelestarian ekosistem laguna Segara Anakan yang cukup efektif dan ekonomis. Menurut Rahmawati, keuntungan yang diperoleh dalam sistem silvofishery antara lain dapat meningkatkan lapangan pekerjaan, dapat mengatasi permasalahan pangan dan energi, serta kestabilan iklim mikro dan konservasi tanah. Sistem ini dianggap sebagai sistem yang baik karena selain pemanfaatan lahan untuk budidaya perikanan pada tambak oleh masyarakat akan tetapi juga tetap melestarikan ekosistem mangrove.

Tingkat partisipasi masyarakat terhadap sistem silvofishery di Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah dikategorikan sedang (Prasenja, 2008). Hal tersebut dikarenakan tingkat pendidikan dan pengetahuan akan pentingnya sebuah ekosistem bagi kehidupan dan penghidupan masih kurang. Tingkat partisipasi tersebut masih didorong dengan besarnya pendapatan secara ekonomi yang harus diterima masyarakat.

Dengan menerapkan sistem silvofishery , selain meningkatkan perekonomian masyarakat, juga diharapkan dapat melahirkan “masyarakat yang berkelanjutan” yaitu masyarakat yang memiliki 9 prinsip hidup :

1. Menghormati dan memelihara komunitas kehidupan.

2.  Memperbaiki kualitas manusia.

3.  Melestarikan kehidupan dan keragaman bumi.

4.  Menghindari pemborosan sumberdaya-sumberdaya yang tak terbaharui.

5. Berusaha tidak melampaui kapasitas gaya hidup orang per orang.

6.  Mengubah sikap dan gaya hidup orang per orang.

7. Mendukung kreatifitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri.

8. Menyediakan kerangka kerja nasional untuk memadukan upaya pembangunan dan pelestarian (Eka, 1994 dalam Prasenja, 2008).

Dapat disimpulkan partisipasi masyarakat di Segara Anakan masih belum sesuai harapan, namun demikian secara parsial ditunjukkan sebagai berikut (1) Dalam pengelolaan ekosistem Segara Anakan, tingkat partisipasi masyarakat dikategorikan sedang. Tingkat partisipasi tersebut masih didorong dengan besarnya pendapatan secara ekonomi yang harus diterima masyarakat. Hal tersebut dikarenakan tingkat pendidikan dan pengetahuan akan pentingnya sebuah ekosistem bagi kehidupan dan penghidupan masih kurang. (2) bentuk partisipasi yang bisa untuk dikembangkan dalam pengelolaan Segara Anakan adalah dengan sistem silvofishery . Hal ini dikarenakan faktor yang paling berpengaruh adalah pendapatan dalam usaha tambak. (Pemilu2019-Prasenja)

http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://pemilu2019.com/article/110691/kerangka-dasar-membangun-ekonomi-biru-di-segara-anakan-melalui-partisipasi-masyarakat.html&layout=standard&show_faces=false&width=450&action=like&font&colorscheme=light&height=35

Ditulis pada Lingkungan | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Efektivitas dan Keberlanjutan Program Ayo Tanam Mangrove

Jakarta (Pemilu2019) – Wilayah pesisir merupakan wilayah yang padat aktivitas, baik aktivitas manusia, industri, maupun ekonomi. Konsekuensi dari padatnya aktivitas tersebut akan menyebabkan penurunan daya dukung wilayah pesisir. Kegiatan di wilayah pesisir yang kurang tertata dengan baik menyebabkan kerusakan wilayah pesisir. Salah satu indikator kerusakan wilayah pesisir adalah mulai berkurangnya luasan lahan mangrove, lamun dan terumbu karang sehingga memicu terjadinya abrasi dan akresi/sedimentasi.

Secara umum kerusakan yang terjadi tidak sedikit. Disamping kerusakan pantai secara fisik dan ekosistem pesisir pun rusak berat. Masalah erosi, sedimentasi dan abrasi pun dirasakan sangat mengganggu aktivitas pengembangan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Misalnya, hilangnya penyangga pantai, yaitu hutan mangrove. Dilain pihak, pengembangan dan pemanfaatan yang dilakukan, misalnya dengan adanya konversi lahan hutan bakau menjadi tambak tanpa pertimbangan yang memadai sehingga pada gilirannya akan memicu laju erosi, sedimentasi dan abrasi secara tak terkendali.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, Direktorat Pesisir dan Lautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2009 mulai mengembangkan program Gerakan Ayo Tanam Mangrove atau yang disingkat ATM. Sebanyak 420.000 bibit mangrove telah ditanam di 42 Hektar (7 desa di 4 Provinsi yaitu Jawa Timur tahun 2009, Provinsi Maluku tahun 2010, Jawa Tengah tahun 2010 dan 2011 serta Banten tahun 2010). Program ini tidak hanya untuk rehabilitasi lahan mangrove, tetapi sebagai stimulan untuk meningkatkan kesadaran dalam pelestarian dan perawatan daerah mangrove.

Pada Tahun 2009 Gerakan Ayo Tanam Mangrove pertama kali dilaksanakan di Desa Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur dengan jumlah bibit yang ditanam sebanyak 110.000 dengan jenis Rhizopora dan Avicennia . Tahun 2010, kegiatan program yang dilaksanakan di Desa Depok, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kota Ambon, Provinsi Maluku dan Desa Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang Pro vinsi Banten. Di Desa Depok, Pekalongan ditanam sebanyak 60.000 bibit mangrove jenis Rhizopora , di Kota Ambon ditanam 25.000 bibit jenis Rhizopora pada 5 lokasi dan di Desa Tanjung Pasir ditanam 40.000 bibit jenis Rhizopora . Pada Tahun Anggaran 2011 program dilaksanakan di Desa Mangunharjo di Kota Semarang sebanyak 40.000 bibit Rhizopora .

Tujuan dari program ini adalah meliputi (i) pemulihan dalam jangka panjang wilayah pesisir dengan penanaman mangrove, (ii) memberikan kesadaran kepada seluruh masyarakat tingkat tentang pentingnya ekosistem mangrove, (iii) mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya meningkatkan lingkungan pesisir dengan penanaman mangrove dengan cara/metode yang biasa dilakukan masyarakat setempat, (iv) meningkatkan kesadaran masyarakat dan partisipasi aktif dalam rehabilitasi ekosistem mangrove dalam rangka menciptakan wilayah pesisir hijau, dan (v) memberikan dukungan dan keterampilan kepada masyarakat lokal untuk pengenalan potensi penambahan menghasilkan dengan pengelolaan dan pemanfaatan mangrove.

Program ini melibatkan masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam penanaman mangrove, perawatan dan pemanfaatan secara ekologis. Selain penanaman mangrove, kegiatan lain yang dilaksanakan pada Gerakan Ayo Tanam Mangrove termasuk (i) pelatihan peningkatan sumber pendapatan sebagai mata pencaharian alternatif dan pemanfaatan pascapanen, (ii) penyadaran kepada masyarakat untuk melestarikan lingkungan pesisir, (iii) kompetisi terkait pelestarian lingkungan pada generasi muda/mahasiswa dan masyarakat setempat, dan (iv) pameran pelestarian ekosistem mangrove dan makanan berbahan mangrove.

Sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah pun dalam pengelolaan mangrove melalui Kegiatan Ayo Tanam Mangrove dapat terbina sehingga dari segi anggaran dan pemanfaatan lebih efektif. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berbagi anggaran dalam pengelolaan mangrove sehingga tidak menghambur-hamburkan anggaran. Akan banyak anggaran yang terserap dengan baik dan efisien melalui kegiatan ATM ini.

Kegiatan yang tidak hanya sekedar seremonial ini dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat dan dapat dijadikan percontohan kegiatan pelestarian lingkungan yang terpadu dan bersahabat kepada masyarakat. Mereka dilatih bagaimana cara pembibitan untuk menyediakan kebutuhan bibit mangrove untuk program lain di lokasi yang berbeda. Dengan kegiatan ATM, pendapatan kelompok masyarakat akan meningkat. Para ibu rumah tangga dapat menerapkan apa yang mereka dapatkan dalam pelatihan, mereka dapat menghasilkan produk-produk yang dibuat berbahan dasar mangrove dan pascapanen bandeng. Generasi muda pun lebih sadar dalam pemulihan lingkungan, sebagai investasi kesadaran awal, sehingga mereka dapat memberikan saran kepada orang lain agar mencoba untuk mulai melindungi lingkungan. Kegiatan ATM ini pun tidak berhenti saat penanaman saja tetapi sampai masa pemeliharaan yang juga melibatkan masyarakat dan hasil kegiatan ini pun terdokumentasikan melalui peliputan media maupun dalam bentuk buku dan media dokumentasi lainnya. (Pemilu2019-Prasenja)

http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://pemilu2019.com/article/109184/efektivitas-dan-keberlanjutan-program-ayo-tanam-mangrove.html&layout=standard&show_faces=false&width=450&action=like&font&colorscheme=light&height=35

Ditulis pada Lingkungan | Tag , | Tinggalkan komentar

Prahara Negeri Pesisir

DCIM\102SPORT

– Jakarta (Pemilu2019) –

Prahara di negeri pesisir

Tenggelam, dari peradaban suram

Kisah klasik yang makin terusik

Tak ada lagi nikmat, walaupun hanya sesaat

Rob!! Rob!!

Berulah.. Bencana.. Pembawa nestapa..

Kau rubah rumah menjadi kerdil

Hanya beradaptasi, namun masih saja kami tak mampu adil

Karena mangrove yang telah kami usir

Kami ubah menjadi tambak dan tempat kami untuk plesir

Andai saja kami tak tuli

Terdengar rintihan pantai berteriak

Pesisir kami tak lagi hijau, pesisir kami gersang dan usang

Berlindung, tak ada lagi tempat

Dari gelombang-gelombang menggulung, terhempas

Ikan saja menjadi sombong, tak singgah untuk sekedar memijah

Tak lagi ada yang kami tangkap

Tak ada lagi menu lezat untuk kami santap

Semua telah rusak

Hilang tanpa jejak

Akibat dari yang kami dapat

(Pemilu2019-Prasenja)


http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://pemilu2019.com/article/107636/prahara-negeri-pesisir.html&layout=standard&show_faces=false&width=450&action=like&font&colorscheme=light&height=35

Ditulis pada PUISI | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Mangrove Restoration in North of Java Island as an Effort to Climate Change Mitigation

Jakarta (Pemilu 2019) – W Mahardi, E Nezon, Y Prasenja and Prayogi

 I.         Introduction

 Climate change giving impact to mangroves life. Global climate change causes specifically changes in temperature, CO2 , precipitation, hurricanes and storm, and sea level, combined with anthropogenic threats will threaten the resilience of mangroves [4 ]. Since 1880, the Earth has warmed 0.6-0.8° C and it is projected to warm 2-6° C by 2100 due to human activity, and atmospheric CO2 has increased from 280 parts per million by volume (ppmv) in the year 1880 to nearly 370 ppmv in the year 2000 [2 ]. For this condition mangrove will impact, so it’s need strategy building resilience into mangrove conservation plans requires. Beside that, mangroves have capability to carbon sequesting.

 Vegetasi mangroves, based on research are able to capture carbon ( known as the ” Blue Carbon “) 55% more effective than the carboncaptured byland forests ( known as ” Green Carbon “). Carboncaptured by ecosystems is stored in the form of sedimentaround the mangroves . Carbon is locked in sediments that are not only in the range oftens or hundreds of years , but can be in the range of thousands of years. Each year , approximately 235-450 Tg ( Teragram = 106 tons ) of blue carbon sinks and captured by the mangrove and estuary. This amount is close to half of theworld’s carbon emissions resulting from the transport sector ( known as the Black/brown carbon) that ranging1000 Tg C/year . So mangrove are the mosteffectivecarbonsinkerson the planet [5 ].

 On the other side, degradation of the mangrove ecosystem along the northern coastline of Java Island is very serious, more than 70% of the mangroves area in a severely damaged condition, 4,826 ha out of a total mangrove area of 6,798 ha according to statistic of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF) in 2011. This condition has been caused by land use conversion, cutting of mangroves trees for milkfish/shrimp ponds, industrialization, oil pollution, and charcoal production. As one of the efforts to restore mangroves which has been degraded and contributing to climate change mitigation, the Directorate of Coastal and Marine Affairs of MMAF since 2000 until 2011 has been planted more than 2.3 million mangrove seedling or around 482 ha.

  II.      Materials and method

The methodology for conducting this this study included:

1.    Compile and data analysis of planting mangrove since year of 2000

2.    Identify more effectiveness from activity in mangrove restoration and public awareness

3.    Measure carbon sequesting

III.   Results and Discussion

In implemented of the Programme, besides replanting mangroves, there were other activities like environmental education, a student competition in environment matters and climate change issues, training in alternative income generation and mangrove rehabilitation, integrated coastal management training. All activities important to recovery of environmental degrade and build capacity building for local community to aware with the environmental conservation. With the strong capacity, the local community can maintains of ecosystem preservation and effort to climate change mitigation also.  

 As we know mangroves can play a significant role in building resilience against climate change and natural disasters in the coastal zone by providing coastal communities with increase food and income security, as well as an-improved environment and physical protection against erosion, storms and other extreme climate events. Mangrove are capable of sequesting very high quantities of carbon compared to other forest types. Further studies show that the ecological and economic value of mangroves as a carbon sink, and the potential to benefit mangrove dependent communities through the emerging forest carbon mechanism.

 Capability mangroves to absorb carbon are 176.8 mg/ha [3 ]. Based on the capacity, it can predict carbon sink of mangroves which has been planted in north of Java. Carbon stock can account with land cover method multiplied by index values of carbon. Index refers to IPCC convention. The other method, carbon stock measure based on estimation of a wide of mangrove which has been planted and prediction in five or ten years after.

 The total biomass of mangrove with NDVI value in Java use formula Y      = 672,22e10,335x , where Y is carbon bio-mass (kg/ha) and x are NDVI value (mangrove = ± 0,65). And to measure carbon sink on the soil surface are Z = 0.46 x Y, Z are total carbon can absorb by mangrove. Reference to those formula, the total of carbon sink in last 7 years are 12,678 kg of carbon. It is prove mangrove restoration not only use to protection against erosion, alternative solution in climate change mitigation.

 This data can effort to success Indonesia government program to reduce carbon in the air. As a commitment Indonesia government to decrease of green house gas, speech of Indonesia President giving statement in Conference of Climate Change in Copenhagen Denmark that mention Indonesia will commitment to reduce green house effect amount 26% until 2020 and more over 41% if International community aid Indonesia. Considering the result of research that mentions mangrove capability to absorb carbon more effective than primary forest [3]. (Pemilu2019)

Key words: mangroves, restoration, climate change, mitigation, Indonesia

  References:

1.        Directorat of Coastal and Ocean Affairs. 2011. Identification for Degradation and Rehabilitation Planning on the North of Java. Jakarta: Ministry of Marine Affairs and Fisheries.

2.        Houghton, J., Y, Ding, D. Griggs, M. Noguer, P. van der Linden, X. Dai, K. Maskell, C. Johnson (eds.). Climate Change 2001: The Scientific Basis. Published for the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom, and New York, NY, USA, 881 pp.

3.        Lasco, R.D. 2001. Carbon budgets of forest ecosystems in Southeast Asia following disturbance and restoration. Review paper prepared for the GCTEAPN project “Land Use Change and the Terrestrial Carbon Cycle in Asia”. February 2001.

4.        McLeod, E., and Salm, R. V. 2006. Managing Mangroves for Resilience to Climate Change. The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources / The Nature Conservancy, Gland, Switzerland.

5.        Nellemann, C., Corcoran, E., Duarte, C. M., Valdés, L., DeYoung, C., Fonseca, L., Grimsditch, G. (Eds). 2009. Blue Carbon. A Rapid Response Assessment. United Nations Environment Programme, GRID-Arendal, www.grida.no


http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://pemilu2019.com/article/107543/mangrove-restoration-in-north-of-java-island-as-an-effort-to-climate-change-mitigation.html&layout=standard&show_faces=false&width=450&action=like&font&colorscheme=light&height=35

Ditulis pada Lingkungan | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Puisi Alay

– Jakarta (Pemilu2019) –

4l4y, l3b4y k4rakt3r j4m4n s3k4r4nG
Bicar4 pun b3rl464 cUpu
t3r1Ak-t3R14k t4np4 m4lu
m4r4H-m4R4h d1 f4c3b00k d4n tw1tt3R
taK d16UbRi5, MAl4h 53mak1n S4nt3R

b3rbuAT n4k4l B3rujUn6 Kr1min4l
tawur4n d4n Bol05, man6k4l pun di T3rMin4l
Mu5uh t3rBunUH, t3MaN t3rluK4, Y4n6 laiN h4nya t3rt4wA
d1man4 m0R4l y4N6 d4huLu 4dal4h 5akR4l
KIn1 t3rT4n4m h4ny4l4h d3nD4m
b3Rla6a JA6o4N, B3Rkel4h1 k3r0y0k4n

J4m4n 53KaR4n6 Mem4n6 jaM4n 3D4n
y4n6 tU4 pUN k3l4kuanny4 5erup4
B3rp3Ndid1kan, 4N6G0t4 d3w4N PuLa
T4p1 b3rp0L4h, 4du J0t05 did3p4n k4M3r4

3ntAh 4p4 k4ta dun14
TU4 mud4, k3l4Ku4n T3rc3l4

(Pemilu2019-Prasenja)

http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://pemilu2019.com/article/105532/puisi-alay.html&layout=standard&show_faces=false&width=450&action=like&font&colorscheme=light&height=35

Ditulis pada PUISI | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Museum Karst Pracimantoro, Kawasan Sejuta Goa

Jakarta (Pemilu2019) – Siapa bilang berwisata ke museum hanya monoton dan tidak mempunyai nilai petualangan? Coba saja kita berkunjung ke museum karst yang terletak di Desa Gebangharjo, Pracimatoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Selain edukasi kita akan diajak berpetualang menelusuri bentang alam karst. Disana kita akan dimanjakan dengan panorama bukit karst yang menyimpan sejuta misteri bawah tanahnya seperti sungai bawah tanah dan fenomena gua karst dengan beragam ornamen didalamnya. Coral Pembentuk Karst Coral Pembentuk Karst (Pemilu2019- Prasenja) Museum Karst Museum Karst (Pemilu2019-Prasenja) Museum yang dibangun sejak tahun 2007 ini merupakan sebuah museum yang menyajikan fenomena unik dan menarik. Keunikan karst tidak hanya terdapat di permukaan (eksokarst) saja tetapi juga didalam perutnya (endokarst) pun menyimpan banyak panorama ornamen dalam gua yang indah-indah. Manusia Goa Manusia Gua (Pemilu2019-Prasenja) Panorama pada eksokarst menyajikan keindahan panorama kubah karst dengan hijaunya penggunaan lahan di sekitar puncak bukit connical yang berupa hasil olahan penduduk yaitu ketela pohon (manihot utilisima ). Sementara itu, disekitar lereng dijumpai beberapa vegetasi utama yaitu jati (tectona grandis ), akasia (acacia cauliformis ), beringin (ficus benyamina ) dan beberapa ditanami pisang (musa sp ) dan pepaya (carica papaya) serta diselingi oleh semak-semak berupa tembelekan (lantana camara ) dan putri malu . Ornamen Goa Ornamen Gua (Pemilu2019-Prasenja) Panorama endokarst tidak kalah menariknya, didalam perut bumi karst ini pun menyimpan beribu keindahan yang eksotis dan mistis berupa gua dan ornamen-ornamennya serta sungai bawah tanah . Ornamen goa atau speleothem secara garis besar adalah merupakan hasil dari proses pengendapan atau pengkristalan (precipitation ) dari mineral CaCO3 yang mendominasi ba tuan gamping di wilayah karst . Ornamen utama yang mendominasi gua-gua di kawasan karst yaitu dripstone (ornamen yang terbentuk karena tetesan) , flowstone (ornamen yang terbentuk karena rembesan/aliran) , dan rhimestone (ornamen yang terbentuk karena aliran dan tetesan dan menjadi kolam-kolam). Kolam Sumber Air Kolam Sumber Air (Pemilu2019-Prasenja) Museum karst Pracimantoro merupakan sebuah pusat penelitian dari kawasan karst dunia yang membentang dari Provinsi DIY hingga Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur. Didalam bangunan yang berbentuk connical ini menampilkan diorama perkembangan kawasan karst seluruh Indonesia sejak jaman prasejarah, jaman kerajaan hingga saat ini yang banyak digunakan sebagai kawasan wisata minat khusus yaitu penelusuran gua dan panjat tebing. Penunjuk Arah Penunjuk Arah (Pemilu2019-Prasenja) Tiket masuk kawasan ini pun sangat murah, hanya dengan Rp. 2.000,- kita sudah dapat mengeksplorasi kawasan museum karst Pracimantoro ini. Mulai dari Gua Tembus yang terletak tidak jauh dari pintu pembayaran retribusi, Gua Gilap, Gua Sodong, Gua Mrica, Gua Potro hingga Gua Sapen yang berbentuk luweng (vertikal). Akses menuju gua tersebut pun sangat bagus yaitu berupa susunan conblock dan aspal yang masih halus sehingga kita dapat menelusurinya hanya dengan berjalan kaki. Disepanjang jalur menuju gua-gua tersebut pun terdapat banyak gazebo-gazebo tempat untuk beristirahat sejenak. Dari gazebo tersebut kita dapat memandangi hamparan bentang alam berbatu gamping yang tampak hijau nan sejuk. Panorama Panorama (Pemilu2019-Prasenja) Pemandangan Pemandangan (Pemilu2019-Prasenja) Yang menjadi daya tarik bagi saya adalah adanya penjual batu cincin yang berasal dari batu alam. Menurut pedagang, batu-batuan tersebut diambil dari daerah sekitar kawasan karst Pracimantoro. Untuk batu cincin, harga yang ditawarkan pun relatif murah yaitu berkisaran antara Rp. 20.000,- hingga Rp. 100.000,-. Batu alam tersebut pun banyak yang dibuat sebagai aksesoris seperti bros, gantungan kunci, bahkan menjadi pajangan rumah yang dibentuk menyerupai hewan. Diorama Ornamen Goa Diorama Stalaktite dan Staklamite (Pemilu2019-Ninoy Wangsa) Untuk melepas lelah dan dahaga setelah berputar-putar di kawasan museum karst, di samping museum pun terdapat warung-warung tenda yang tertata rapih dan bersih. Mereka menyediakan aneka minuman dan makanan ringan seperti es dawet, rujak buah, jus buah dan makanan-makanan ringan lainnya. Es Dawet Dawet (Pemilu2019-Prasenja) Setelah seharian berkeliling, saya pun mulai meninggalkan museum karst yang sangat eksotik ini. Sesampai digapura selamat datang museum karst, saya melihat penduduk yang menjual durian. Untuk menghilangkan rasa penasaran saya sebagai penikmat buah berduri ini, saya pun berhenti sejenak untuk mencobanya. Durian Karst Mencicipi Durian (Pemilu2019-Aning Trisubeqi) Durian yang dijualnya ini merupakan durian yang tumbuh disekitar museum karst. Rasanya pun tidak kalah dengan durian-durian lokal dari tanah Sumatera. Walaupun saya kurang paham akan spesies durian yang saya makan ini, tetapi untuk rasa saya akui sangat manis dan tidak mengandung banyak gas dan aromanya pun sangat harum. Setelah mencoba beberapa butir saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Kawasan karst yang identik dengan batuan gamping/kapur sehingga sangat terkenal dengan kegersangannya, ternyata tidak seperti yang sebagian besar orang bayangkan. Walaupun sulit akan air bersih, sebenarnya merupakan lumbung air karena sungai bawah tanahnya. Lereng-lereng terjalnya pun dapat ditanami dengan tanaman pertanian dan kita tidak khawatir akan terjadinya tanah longsor karena batuan karst merupakan batuan yang cukup solid. This Way This Way (Pemilu2019-Prasenja) Saya bangga dapat menikmati keindahan fenomena karst yang unik ini dan saya pun wajib untuk tetap menjaga kelestariannya. Kunjungan saya sebagai penikmat alam, dengan begini saya akan terus mencintai alam agar terus lestari. (Pemilu2019-Prasenja)

Ditulis pada Perjalanan | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Kasus Misteri yang Harus Dipecahkan (Bagi yang ingin menjadi detektif)

– Jakarta (Pemilu2019) –

Kasus Misteri–

Anda diundang ke sebuah acara reuni kecil jurusan Anda di kediaman salah satu alumni. Kurang lebih 53 orang alumni hadir di acara tersebut. Suasana hangat dan kenangan cerita masa lalu saling diutarakan. Bahkan beberapa cerita cinta lama pun tampaknya mulai bermunculan kembali di antara beberapa alumni. Sebelum acara makan malam dimulai sekitar jam 7 malam, terdengar teriakan histeris wanita dari area halaman belakang rumah.

Anda dan tuan rumah bergegas menuju ke halaman belakang dan disana melihat Winda sedang memeluk Ari. Kedua wajah mereka terlihat pucat. Mereka memang sempat berpacaran semasa kuliah dulu.

Di dekat posisi mereka berpelukan terbujur sesosok mayat yang sudah membiru dan sebagian badan nya terbungkus plastik sampah hitam dan ditutupi oleh semak. Leher mayat tersebut hampir putus. Anda memeriksa mayat tersebut dan Anda mengenal wajah itu, Ramon. Ramon dikenal sebagai pria paling populer di masa kuliah. Anak konglomerat, tampan, ramah dan tidak segan meminjamkan uang kepada teman yang membutuhkan.

Acara reuni terhenti karena penemuan mayat ini. Mayat pun di otopsi. Hasil dari otopsi menunjukkan bahwa Ramon telah meninggal selama 43 jam sejak ditemukan. Peristiwa ini cukup menakutkan, banyak alumni yang langsung pergi meninggalkan lokasi sehingga hanya tertinggal 50% dari tamu yang masih ada. Dari hasil penyelidikan, ada 4 orang dengan alibi berbeda yang Anda curigai, mereka adalah:

A) Ari: Saat itu saya sedang makan siang bersama Winda, sudah hampir 10 tahun kami berdua gak pernah komunikasi ataupun ketemu.


B) Reva: Saya baru aja balik liburan keluarga dari Bali! Memang saya masih punya hutang sama Ramon, tapi saya bukan pembunuhnya!


C) Pandu: Udah lama banget saya gak pernah ngobrol sama Ramon, lagipula jam-jam segitu biasanya saya lagi nganterin anak-anak sekolah.


D) Putri: Pasti yang ngelakuin tau bentuk asli dari si Ramon, Sayang gak sempat ketemu Ramon semasih hidup karena udah seminggu saya menemani suami di rumah sakit dan baru saja pulang kemarin.

Siapakah menurut Anda pembunuh Ramon? Apa yang menyebabkan Anda yakin dia adalah pembunuhnya?

Jawab di komentar yah beserta alasannya kalau kamu memang detektif handal. hheeee


http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://pemilu2019.com/article/105043/kasus-misteri-yang-harus-dipecahkan-bagi-yang-ingin-menjadi-detektif.html&layout=standard&show_faces=false&width=450&action=like&font&colorscheme=light&height=35

Ditulis pada Informasi | Tag , , , | Tinggalkan komentar